Dibalik pesona jawi

Candi jawi adalah salah satu candi peninggalan kerajaan Singasari dengan corak budha yang terletak di Desa Candiwates Kec. Prigen Kab. Pasuruan. Candi ini berada di dataran dengan ketinggian 290m dpl. Dengan puncak berbentuk stupa dengan perpaduan kubus yang runcing puncaknya dan indahnya puncak pawitra sebagai latar belakang menambah pesona candi jawi ketika dipandang dari jauh.

Dibalik pesona jawi bak mahkota ditengah gemerlap riuh kota, tersimpan sejarah dan cerita yang menarik lohh. Yap, Candi Jawi dalam kitab Negarakertagama karangan Empu Prapanca pupuh 56 disebutkan bahwa Candi Jawi didirikan atas perintah raja terakhir Kerajaan Singasari, yaitu Kertanegara. Candi ini dibangun pada abad ke 13, adapun dibangunya Candi Jawi adalah untuk dijadikan tempat beribadah bagi umat beragama Syiwa-Budha yang mana Raja Kertanegara penganut agama ini. tak hanya jadi tempat ibadah, Candi Jawi juga dijadikan tempat penyimpanan abu Raja Kertanegara dan sebagian abu tersebut juga disimpan pada Candi Singasari. Diduga hal itu karena rakyat di daerah Jawi sangat setia kepada raja dan banyak yang menganut ajaran Syiwa-Budha.

Pendaki awp
Candi jawi

Kitab Negarakertagama meyebutkan bahwa pada tahun 1253 saka (candrasengkala: Api Memanah Hari) Candi Jawi disambar petir. Dalam kejadian itu arca Maha Aksobaya menghilang dan membuat sedih Raja Hayam Wuruk saat baginda bertandang ke Candi Jawi.
Adapun arsitektur candi ini sebagai berikut. Candi ini berkaki syiwa, berpundak budha. Dengan atap stupa layaknya candi bercorak Budha lainnya. Pintu candi menghadap ke arah timur, terdapat relief yang terletak pada dinding sekitar candi sayangnya sampai sekarang belum ada yang bisa membaca relief tersebut. Sedangkan didalam candi terdapat relief Dewa Surya yang tepat dibagian tengah dimana bagian paling tinggi didalam candi. Batu yang dipakai bahan bangunannya terdiri dari 2 jenis, yakni batu gelap dan putih. Mengindikasikan candi ini dibangun dalam 2 periode pembuatan. Kaki candi berdiri diatas batur setinggi 2 meter dengan pahatan relief yang memuat ceita seorang pertapa wanita. Diatas pintu terdapat pahatan kalamakara lengkap dengan sepasang taring, rahang bawah, serta hiasan dirambutnya. Dikiri dan kanan terdapat relung kecil tempat meletakkan arca. Diatas ambang masing-masing relung terdapat pahatan kepala makhluk bertaring dan bertanduk.

Jadi, buat kalian generasi muda bolehlah sekali-kali mampir untuk mengintip bukti sejarah yang mengagumkan ini.

Shared With Love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *