Grebeg Suro Dilereng Gunung Arjuno welirang

Grebeg suro

Grebeg suro/bersih desa merupakan budaya yang rutin dilaksanakan setiap tahun oleh warga Dusun Tambak watu,ini merupakan salah satu adat turun temurun dari para sesepuh Dusun Tambak watu yang letaknya di lereng Gunung arjuno . tidak seeperti tahun-tahun sebelumnya, grebeg suro tahun ini yang betepatan dengan masa new normal pandemi. Meskipun begitu tradisi ini tetap dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan,yaitu wajib memakai masker.Namun grebeg desa yang di selenggarakan tahun ini pada jum’at 4 September 2020 tahun ini digelar dengan sederhana.Meskipun sederhana acara ini tetap hikmat. Seperti biasa dalam rangka grebeg suro ini yaitu (slametan) seluruh warga wajib membuat tumpeng atau hantaran lainya yang kemudian di bawa ke sumber(kali abiyoso). seperti menjadi rahasia umum di wilayah petilasan gunung arjuno,desa yang terkenal dengan budaya religi ini juga memiliki banyak situs budaya.Nah di kali abiyoso ini terdapat patung Bethoro guru,slametan (kenduren) ini bukan untuk menyerahkan persembahan kepada arca.Tapi hal ini merupakan wujud syukur kepada sang Maha Kuasa atas melimpahnya hasil panen dan juga kemakmuran setiap warganya.

Setelah acara slametan(kenduren)di selenggarakan dan do’a bersama para sesepuh,acara selanjutnya yakni pertunjukan remo di depan archa bethoro guru.Setalah itu barulah warga menggelar acara pemeriahan,yaitu menyelenggarakan iring-iring ancak.Nah ini salah satu ciri khas yang sangat di minati warga Tambak watu dan juga warga di luar wilayah Tambak watu.Tak jarang banyak juga wisatawan lokal yang berbondong-bondong menyakiskan.Ancak ini terbuat dari beberapa tema,ada yang bertema bahan pokok yang terdiri dari polowijo, buah dan sayuran,bahkan juga bertema kebutuhan sandang.Ancak di hias sedemikian apiknya,yang kemudian di bawa keliling desa bersama orang-orang yang menggiring di belakangnya.Setelah itu di tempatkan dan direbut bersama.

Pada tahun-tahun sebelum sebelumnya malam hari setelah kegiatan ini diselenggarakan pertunjukan budaya yakni (ludruk/campursari). Karena tahun ini situasinya kurang memungkinkan jadi hanya menggelar pesta kembang api.Namun tidak mengurangi kebahagiaan dam rasa syukur setiap warganya. Semoga tradisi-tradisi seperti ini tetap lestari dan khidmat serta tidak akan pernah tergerus arus globalisasi.

Shared With Love

Related posts

Leave a Comment