Gununggangsir ternyata ada makam ketua pki pertama

Tak banyak orang yang tahu di taman makam umum Gununggangsir Pasuruan ini terbaring pendiri sekaligus ketua umum pertama Pertai Komunis Indonesia (PKI). Makam yang sederhana, nampak seperti makam keluarga R.A Prawira Atmadja. Makam itu terletak di Gununggangsir, dengan gapura warna hijau khas bangunan tua dengan penanda tahun dibangun 1962. Makam itu terletak 400m dari perempatan Gununggangsir dan 200m dari smpn 1 beji lebih tepatnya samping pabrik firavit. Orang itu adalah Semaun, lahir di desa Curahmalang, Jombang, Jawa Timur sekitar tahun 1899. Anak Prawiroatmodjo pegawai rendahan, tepatnya tukang batu di jawatan kereta api.

Semaun
Semaun muda

Meskipun bukan dari anak bangsawan atau priyai Semaun berhasil masuk sekolah Tweede Klas (sekolah bumiputra kelas dua) dan memperoleh pendidikan tambahan bahasa Belanda dengan mengikuti semacam kursus sore hari. Dengan modal pendidikan itu, Semaoen remaja mengadu nasib di jawatan kereta api seperti bapaknya. Dia bekerja di Staatspoor (SS) Surabaya sebagai juru tulis (klerk) kecil dan saat itu semaun masih berusia 13 tahun.

Dikalangannya Semaun sangat pandai bergaul meskipun usianya masih belia, itu terlihat saat bekerja di jawatan kereta api, Semaun membaur menjadi satu di kalangan buruh dan merasa dirinya bagian dari mereka. Dia pun gabung ke serikat buruh kereta api, Vereniging van Spoor-en Tramwegpersoneel (VSTP). Selain itu karena pergaulannya itu dan kepandainnya di usia 14 tahun semaun bergabung dengan Sarekat Islam (SI) surabaya. Bergabungnya semaun ke SI dikarenakan semaun mengetahui sesuatu tanda tertentu yang hanya diketahui anggota SI saat aksi pemboikotan toko-toko cina di surabaya. Mau tidak mau SI merekrut Semaun menjadi anggota meskipun usianya masih belia.

Di sarekat islam (SI) dan serikat buruh kereta api (VSTP) kepandaiannya dalam propaganda membuat Semaun menonjol dikalangannya dan di angkat sebagai sekretaris di SI cabang surabaya. Namun tak berlangsung lama, setelah pertemuannya dengan Sneevliet pada 1915, Semaoen pindah ke Semarang atas ajakan Sneevliet.

Henk Sneevliet adalah propagandis asal belanda yang mengenalkan Semaoen paham marxisme. Dia juga bergabung dengan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV), sebuah organisasi sosialis di Hindia, cikal bakal dari Partai komunis indonesia. Lewat Sneevliet inilah paham marxisme masuk dalam tubuh SI dan menjangkiti beberapa tokoh muda, seperti Semaoen dan Darsono SI Cabang Semarang, Alimin dan Musso di SI Cabang Batavia, dan Haji Misbah di SI Cabang Surakarta.

Dari Semarang Sampai ke pengasingan

Sejak terpilihnya semaoen menjadi ketua SI semarang menggantikan Mohammad Joesoef, semaoen semakin gencar melakukan propagandanya untuk melawan kapitalisme Belanda. Semaoen mengorganisir semua kalangan masyarakat, kemudian pendukung SI Semarang didominasi buruh dan rakyat kecil. Pergantian pengurus ini adalah wujud pertama dari perubahan gerakan SI Semarang dari gerakan kelas menengah menjadi gerakan proletariat. Pada tahun 1918 semaoen terlibat dalam pemogokan buruh dilancarkan 300 pekerja industri furnitur. Pada tahun 1920, terjadi lagi pemogokan besar-besaran di kalangan buruh industri cetak yang melibatkan SI Semarang. Pemogokan ini berhasil memaksa majikan untuk menaikkan upah buruh sebesar 20 persen dan uang makan 10 persen.

Bersama-sama dengan Alimin dan Darsono, Semaoen mewujudkan cita-cita Sneevliet untuk memperbesar dan memperkuat gerakan komunis di Hindia Belanda. Sikap dan prinsip komunisme yang dianut Semaoen membuat renggang hubungannya dengan anggota SI lainnya. Pada 23 Mei 1920, Semaoen mengganti ISDV menjadi Partai Komunis Hindia. Tujuh bulan kemudian, namanya diubah menjadi Partai Komunis Indonesia dan Semaoen sebagai ketuanya.

Pada bulan Mei 1921, ketika Partai Komunis Indonesia didirikan setelah pendiri ISDV dideportasi, Semaoen menjadi ketua pertama PKI. PKI pada awalnya adalah bagian dari Sarekat Islam, tetapi akibat perbedaan paham akhirnya membuat kedua kekuatan besar di SI ini berpisah pada bulan Oktober 1921.

Pada aksi mogok besar-besaran oleh serikat buruh kereta api dan trem (VSTP) tahun 1923, Semaoen yang menjadi dalangnya ditangkap pihak kolonial dan diasingkan ke Belanda.

Setiba di Belanda, ia menjalin hubungan dengan Perhimpoenan Hindia yaitu organisasi mahasiswa Indonesia di Belanda. Disitu ia menggaungkan gagasan-gagasan marxisme dan anti-kolonialisme.

Semaoen bersama Sneevliet dan Bergsma membuat sebuah instrumen propaganda yaitu majalah “Pandoe Merah” yang terbit dalam bahasa Melayu dan Belanda. Semaoen memanfaatkan para pelaut Indonesia di Belanda guna menjadi kurir dan strategi itu berhasil. Dan pada tahun ini juga, Moskow mengangkat Semaoen menjadi Komite Eksekutif Komintern.

Tidak lama di Belanda, Semaoen pergi menetap di Moskow. Pada tahun 1945, ia mengajar Bahasa Indonesia di Institut Ketimuran dan Institut Hubungan Luar Negeri Moskow. Ia juga bekerja di radio Moskow untuk mengisi siaran berbahasa Indonesia, lalu ia memutuskan menikah dengan seorang perempuan Rusia bernama Varia. Puncaknya ia dipercaya menjabat sebagai ketua Badan Perancang Negara di Tajikistan.

Semaoen yang berkeinginan pulang ke Indonesia, dilarang oleh pemerintah Uni Soviet. Soviet beranggapan Semaoen yang dianggap terlalu paham soal Soviet, dikhawatirkan setiba di Indonesia akan membeberkan berbagai informasi strategis yang akan membahayakan Soviet. Namun, atas permintaannya ke Presiden Soekarno ketika berkunjung ke Moskow pada 1956, Semaoen akhirnya bisa pulang ke Indonesia setelah di negeri orang hampir 30 tahun lamanya. 

Pulang Ke Indonesia

Di indonesia Semaoen di angkat presiden soekarno menjadi wakil Ketua Badan Pengawas Kegiatan Aparatur Negara, yang ketuanya Sultan Hamengkubuwono IX. Selain itu Semaoen juga menjadi dosen di Universitas Padjajaran, puncaknya ia mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa di bidang ilmu ekonomi di Universitas Padjajaran, Bandung.

Peninggalan yang bisa dipelajari dari pemikiranya tentang ekonomi Indonesia adalah Tenaga Manusia Postulat Teori Ekonomi Terpimpin, semacam disertasi untuk mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa-nya.

Perlu diketahui ketika kembali di Indonesia, Semaoen telah terputus hubungan dengan Partai Komunis Indonesia yang ia dirikan dahulu. Menurut Moehkardi dalam artikelnya tentang Semaoen di Intisari, Oktober 1971, menyebutkan bahwa ketika kembali ke Indonesia tahun 1956, Semaun tidak lagi diterima menjadi bagian dari PKI-nya Aidit. Karena itu, Semaoen kemudian masuk menjadi anggota partai Murba yang didirikan oleh Tan Malaka.

Di masa senjanya Semaoen menghabiskan waktunya untuk mengabdi pada negara dan menjadi dosen di Universitas Padjajaran, Bandung. Gagasan komunisme yang ia perjuangkan dulu, seakan memudar seiring dengan pengembaraanya dan pengalaman hidupnya. Bahkan menurut Edi Tjahyono menyebut Semaoen pasca kembalinya ke Indonesia sebagai “revisionis” atau bergerak ke “kanan”.

Jejak Semaun di Pasuruan

Dikutip dari wartabromo.com Sepulang dari pengasinggannya, rumah ayahnya R.A Prawiroatmodjo di Desa Gununggangsir, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, Semaun menjadikannya jujugan usai tiba di Indonesia. Cerita itu pula yang disampaikan Lastari (76) dan Mudji (75) dua warga Gununggangsi yang menjadi saksi hidup atas kepulangan Semaun ke Gununggangsir itu. Selain itu menurut S. Goenawan untuk menandai masa pembuangan Semaun ke luar negeri pada 1923. “Semaoen adalah anak dari Prawiroatmodjo, pensioenan Haltechef S.S jang pada masa sekarang ini tinggal beroemah dalam desa Goenoenggangsir, afdeeling Bangil,” tulis Goenawan dalam arsip yang diterbitkan di Bandung itu.

Makam Keluarga R.A Prawira Atmadja

Selain itu tak banyak arsip maupun artikel tentang jejak Semaoen di pasuruan. Tapi masih menurut warga gununggangsir yang menjadi tetangga dan dekat dengan rumah keluarga Semaoen,  Semaoen orangnya baik dan muda bergaul. Sepulang dari pengasingan Semaoen banyak bercerita tentang pengembaraannya di Eropa, dari Belanda, Inggris, dan Moskow. Dari dikejar-kejar intel di Eropa hingga mau dibunuh saat ia ditangkap di Inggris.

Pada 7 april 1971 Semaoen meninggal, semua tetangga dan bangsa indonesia kehilangan sosok pemuda pergerakan di masa kolonial yang berani dan radikal dalam melawan penjajahan Belanda. Cerdas dalam propaganda dan mengorganisir semua kalangan kelas masyarakat dalam usia belia hingga tutup usia. Semaoen dimakamkan di Gununggangsir, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, di sebelah makam ayah dan ibunya.

Tulisan ini adalah mild report

Penulis : Reza Arivianto, Pegiat Perpus Jalanan Pandaan

Refrensi

Miftahul ulum. Oktober, 2020. Melacak Jejak Semaun di Pasuruan, Ketua Pertama PKI (2).
https://www.wartabromo.com/2020/10/01/melacak-jejak-semaun-di-pasuruan-ketua-pki-pertama-2/ (diakses tanggal 6 Desember 2020)

M.Fakhri S. Oktober, 2020. Semaoen Pendiri PKI yang Hidup Tenang di Masa Senjanya.
https://www.kompasiana.com/fakhrisajidan/5f7ad4ffb34e1c3da20c52d2/semaoen-pendiri-pki-yang-hidup-tenang-di-masa-senjanya?page=all#section2 (diakses 6 Desember 2020)

Petrik Matanasi. Oktober, 2017. Semaun: “Dewan Rakyat Cuma Komedi Omong Kosong”
https://www.google.com/amp/s/amp.tirto.id/semaoen-dewan-rakyat-cuma-komedi-omong-kosong-cyk5 (diakses 6 Desember 2020)

Wikipedia. Semaun
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Semaun (diakses 5 Desember

Shared With Love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *