Gunung bromo

Keindahan wisata Bromo sudah dikenal ke manca negara sudah sejak ratusan tahun yang lalu. Jalur ke lokasi ini dirintis oleh keluarga Morbeck yang bisa dikatakan sebagai agen tour dan travel pertama yang mempromosikan sampai ke Inggris hingga Amerika. Morbeck lah yang akan menyediakan segala sarana transportasi dan akomodasi bagi wisatawan yang akan berkunjung ke Bromo. Tercatat dalam sejarah bahwa Raja Siam (sekarang Thailand) King Rama V, Maha Chulalongkorn adalah pengunjung pertama yang mencapai tenda di lautan pasir dengan kendaraan beroda pada tahun 1896.

Res. Pasoeroean. Tengger Geb. Trap met 252 Traden Voerende van de zanzee naar den kraterrand van de bromo. Kraterrand is ca 2 M. Breed

Perjalanan dari melihat indahnya matahari terbit di Penanjakan, belum komplit kalau belum turun ke lautan pasir dan dilanjutkan naik ke kawah Bromo. Lautan pasir dan kawahnya sendiri merupakan tempat keramat bagi masyarakat Tengger, terutama kawah yang merupakan tempat yang sangat disakralkan.

Sebelum mencapai kawah, kita harus menaiki tangga dengan jumlah sekitar 250 anak tangga. Dalam berbagai literatur lama jumlah anak tangga ini disebutkan berbeda-beda, ada yang menyebut 240, 250, 260, dll. Hal ini bisa terjadi karena berbagai sebab, terutama rusak atau akibat tertimbun material letusan gunung Bromo. Jadi tidak ada jumlah yang tetap, akan berubah-ubah terus sesuai dengan kondisi alam.

Tangga menuju kawah Bromo ini pertama kali dibangun pada tahun 1910, yaitu dalam rangka menyambut  Z. H. JOHANN ALBRECHT Hertog van Mecklenburg yang dikatakan masih saudara dari Pangeran Hendrik. Selain mengunjungi Bromo, dalam dokumentaasi foto JOHANN ALBRECHT tercatat juga mengunjungi Susuhunan Solo Pakoe Boewono X.

Dalam prasasti yang dulu masih ada tertulis : “BROMO-TRAP gebouwd in Maart 1910 Voor het eerst bestegen door Z. H. JOHANN ALBRECHT Hertog van Mecklenburg” yang diterjemahkan : ” BROMO-TRAP dibangun pada Maret 1910 Dipasang untuk didaki pertama kalinya oleh Z. H. JOHANN ALBRECHT Duke of Mecklenburg”

Pada foto tahun 1916 tampak prasasti ini sudah hampir tertimbun, entah sekarang masih ada atau tidak.

Penulis : Achmad Budiman Suharjono

Sumber : berbagai literature di www.delpher.nl
Penterjemah : Google Translate

Shared With Love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *