World Outside Of The Prison

Wootp

World Outside Of The Prison Ini gigs pertama yang kami buat di masa pandemik yang malah dimanfaatkan oleh negara mengontrol semua aktifitas kehidupan sampai ke hal-hal privasi, bukannya mengatasi pandemik virus covid-19 ini dengan serius malah mengatasinya dengan serampangan dan ngawur ditambah aparat dan birokrasinya dalam menerapkan aturannya secara fasis. Atas keresahan ini lah kami ingin meluapkan dalam sebuah gigs sederhana tapi bisa meluapkan segala emosi dan amarah melalui distorsi yang menggembirakan dan mampu sejenak melupakan aktifitas yang terpenjara sejak lahir.

Selain itu WOOTP ingin menjalin silatuhrahmi kawan-kawan yang diluar kota yang jarang bertemu dan minimnya gigs akibat pembatasan aktifitas dikarenakan pandemik virus covid-19, selain itu WOOTP juga ingin menghidupkan kolektif individual antar kawan dan kollektif yang sudah ada untuk ikut berpartisipasi dengan konsep acara yang bebas tanpa htm tiket dan identitas gigs atau acara. Jadi sebenarnya world outside of the prison tidak ada panitia tapi semua yang berpartisipasi dan kollektif adalah panitianya jadi tema dari acara WOOTP unsytematic camp hardcore punk fest!! Come under the radar collective power, jadi tidak ada sistem yang terencana, semua bebas menentukan aturan system atas dirinya sendiri dan berlangsungnya acara ini. Dan konsep berkemah di alam bebas dipilih agar kita bisa melepas sejenak hingar bingar suara bising dikota yang penuh dengan kekerasan dan penghisapan antar manusia, serta dalam ruang alam yang bebas dan komunal kita bisa saling berinteraksi antar band, kawan luar kota dll untuk saling bermesraan dan mencumbui gigs ini dengan liar hingga memuntahkan tinja.

Di acara WOOTP ini kami juga menyadari sulitnya akses dan komunikasi ke tempat gigs karena tempatnya yang jauh dari jalan raya dan kota dengan ketinggian 1200mdpl dilereng gunung arjuna weliran, ditambah lagi akses untuk ke gigs lumayan merogoh kantong dengan biaya parkir 15rb dan ojek 20rb atau naik jeep 300rb untuk 10 orang. Kalaupun kita tidak naik ojek atau jeep untuk menuju gigs lumayan jauh 2km dan bisa ditempuh jalan kaki 30 menit dengan jalan terjal dan makadam. Tapi dari biaya tersebut kalian sangat berjasa disana karena menghidupkan kembali ekonomi warga sekitar tempat gigs atau acara WOOTP yang semuanya dikelola oleh warga setempat secara mandiri, selain itu kami tidak mengambil keuntungan dari tiket parkir dan ojek, sepenuhnya kami serakan ke warga sekitar. Jadi dari konsep penjelasan di atas kami punya tujuan terselubung yaitu menghidupkan ekonomi wisata warga sekitar yang sejak 3-4 bulan sepi karena terdampak covid-19.

Prose mmengangkut alat dan tenda

Perlawanan dan Distorsi Dalam WOOTP

Gigs berjalan sedikit molor karena hujan yang mengguyur venue sejak pagi, gigs yang mulanya dimulai jam 3 jadi molor jam 6 sore. Ya mungkin hujan juga ingin merasakan kerinduan dan ingin meluapkan amarahnya untuk menghancurkan dunia dan mendobrak dominasi yang memenjarakan sebagian hidup kita dalam sistem kapitalisme. Dalam rintikan hujan yang mengguyur venue yang dikonsep dalam tenda barak (ibarat penjara) ukuran 6x16m di tengah hutan  pinus distorsi dan nada-nada pemberontakan menggema dalam gelap. Penonton memenuhi tenda barak, semua berpogo ria dan berteriak lantang seakan ingin meluapkan kebebasan dan persaudaraan. Merangkul kawan-kawan yang jarang bertemu, saling tegur sapa meskipun tidak saling mengenal. WOOTP seolah menjadi luapan dan emosi semua kawan-kawan yang hadir.

Hari semakin malam semua band kollektif dan penonton memenuhi venue acara, tenda barak yang menjadi panggung utama di kelilingi tenda kecil band yang perfoma, seolah-olah kita mengelilingi venue tenda barak dan dengan tujuan yang sama menghancurkan tenda barak hingga roboh. Sedangkan tenda barak dipenuhi banyak orang yang berpogo dengan nada-nada perlawanan yang hampir membuat pondasi penjara hancur. Tenda barak ini ibarat penjara yang mengekang, membatasi dan menindas dengan segala kekuasaan yang dibeking para fasis bersenjata lengkap.

Giliran Black rawk dog main, penjara dipenuhi amarah semua bersiap untuk menghantam tembok penjara dan fasis, disusul Karga, penjara semakin memanas, hujan yang tadinya mengiringi, kini mulai agak redah. Penjara mulai tidak terkontrol dan terkendali semua meluapkan emosi sana-sini mengikuti distorsi dan nada-nada perlawanannya. Semua bergantian mengisi Deaven, Interadd, KLF dst, MC pun tak lupa untuk mengagitasi agar sunyi ini semakin liar meskipun sebagian sudah terkapar dibawah pengaruh alkohol.

Hari semakin malam, WOOTP semakin liar dibawah sinar rembulan yang kelam. Lampu kuning yang menjadi penerang menyalakan tanda bahaya, penjara harus hancur sebelum esok menyambut dari timur. Dibawah lampu temaram berjejer lapak-lapak kaos, buku dan alkohol, teriakan dari salah satu lapak, “yang mabok mas yang mabok” seolah-olah mengagitasi kita untuk semakin liar dimalam ini. Distorsi terus mengguncang penjara, sekeliling mulai tak sadarkan diri, semua sibuk atur emosi sambil meluapkan amarah dalam keheningan hutan pinus. Di dalam penjara tenda barak mulai sepi, pondasi miring sana sini tapi tetap berdiri di iringi masheadbrain, 1984, selvmord. Semua bergantian mengisi di malam liar ini, orang-orang sebagian sudah terkapar dipinggir-pinggir tenda, semua menikmati dan bergembira meskipun esok kita kembali dalam penjara dunia ini tapi setidaknya kita mencoba melawan meskipun hanya sebentar dan meredup, tetapi tetaplah menyala!

Menghidupkan Kollektif

Semalamam berpesta dan berpogo ria, menghancurkan penjara dalam barak hingga lelah, tapi yakinlah dengan kekuatan, keyakinan dan kesadaran bersama penjara itu akan hancur suatu saat nanti. Terima kasih untuk semuanya yang telah menyempatkan waktu, menghidupkan kembali kollektif bersama maupun individual ditengah sulitnya ekonomi dan kontrol yang semakin masif. Teruslah berjejaring dan membuat rencana-rencana lain. Mungkin kita bisa bertemu lagi dengan maksut dan tujuan berbeda tapi tetap sejatinya kita ingin menghancurkan penjara, dan hidup bebas dalam keberagaman dan kesadaran kollektif. Peluk hangat buat kalian semua, mohon maaf  untuk kekurangan gigs dan band yang tidak kami sebutkan semuanya dalam tulisan karena kami tidak sadar dan agak lupa siapa saja yang main dimalam perlawanan itu.

Penulis : Reza Arivianto

Shared With Love

Related posts

Leave a Comment